Friday

04-04-2025 Vol 19

Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi di Palu dan Donggala (2018): Bencana Alam yang Mengguncang Sulawesi Tengah

Pada 28 September 2018, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia,

mengalami serangkaian bencana alam yang fatal, yaitu gempa bumi, tsunami, dan fenomena likuifaksi. Bencana ini menyebabkan kerusakan yang signifikan serta banyak korban jiwa, terutama di daerah Palu dan Donggala. Dalam artikel ini, kita akan membahas kejadian bencana alam tersebut, pengaruhnya terhadap masyarakat, serta upaya pemulihan yang dilakukan setelah bencana.

Gempa Bumi yang Memicu Bencana

Kejadian Gempa Bumi di Sulawesi Tengah
Gempa bumi yang mengguncang Palu dan Donggala pada 28 September 2018, terjadi pada pukul 18:02 WIB. Dengan magnitudo 7,4 skala Richter (SR), episentrum gempa ini berada di wilayah Donggala, sekitar 27 kilometer utara Palu. Gempa ini dirasakan sangat kuat dan menggetarkan sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah, bahkan hingga ke daerah yang lebih jauh. Getaran gempa ini menimbulkan kepanikan di antara penduduk, menyebabkan kerusakan pada bangunan-bangunan, serta menambah risiko yang lebih besar berupa tsunami dan likuifaksi.
Gempa ini terjadi di zona subduksi, di mana lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia, menciptakan tekanan yang kemudian dilepaskan dalam bentuk gempa. Aktivitas tektonik ini sudah lama mempengaruhi wilayah Indonesia, yang terletak di “Cincin Api Pasifik. “
Dampak Gempa Bumi
Gempa bumi ini menyebabkan kerusakan parah pada berbagai struktur bangunan di Palu, Donggala, dan daerah sekitarnya. Ratusan rumah, gedung, dan fasilitas umum hancur. Akibatnya, banyak orang yang terjebak dalam reruntuhan bangunan dan tidak bisa diselamatkan. Gempa ini juga memicu beberapa masalah logistik, mengingat kerusakan pada sarana transportasi dan komunikasi yang menghambat distribusi bantuan.

Tsunami yang Menghancurkan

Gelombang Tsunami yang Menyapu Pantai Palu
Tidak lama setelah gempa bumi, sekitar 30 menit kemudian, tsunami besar menerjang pesisir di Palu dan sekitarnya. Tsunami ini dipicu oleh pergeseran dasar laut akibat gempa bumi yang sangat kuat tersebut. Gelombang tsunami setinggi beberapa meter menerjang wilayah pantai dengan kecepatan tinggi, menyebabkan kerusakan besar di sepanjang pantai dan menewaskan ribuan orang.
Tsunami ini juga memberikan dampak psikologis yang sangat besar bagi para korban. Banyak orang yang kehilangan anggota keluarga, rumah, dan harta benda mereka dalam sekejap. Terlebih lagi, masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir tidak sempat menyelamatkan diri akibat kurangnya sistem peringatan dini dan informasi yang tepat.
Dampak Sosial dan Ekonomi Tsunami
Dampak tsunami sangat menghancurkan kehidupan masyarakat Palu dan Donggala. Selain hilangnya banyak nyawa, tsunami ini juga merusak infrastruktur penting, seperti jalan, jembatan, rumah sakit, dan pusat-pusat ekonomi. Aktivitas sosial dan ekonomi di daerah yang terdampak terhenti, dan kebutuhan mendesak akan bantuan pangan, medis, serta tempat tinggal sementara menjadi prioritas utama.

Likuifaksi: Fenomena Tanah Bergerak

Apa Itu Likuifaksi?
Selain gempa dan tsunami, fenomena likuifaksi juga menjadi salah satu penyebab utama kerusakan di Palu dan Donggala. Likuifaksi adalah peristiwa di mana tanah yang awalnya padat berubah menjadi cair akibat getaran atau guncangan gempa. Proses ini terjadi ketika tanah yang terbuat dari pasir jenuh air tidak dapat menahan beban akibat getaran gempa, sehingga tanah tersebut menjadi cair dan dapat mengalir layaknya cairan.
Likuifaksi terjadi terutama di kawasan pesisir dan area dataran rendah di Palu. Tanah yang semula padat berubah menjadi lumpur yang menghancurkan bangunan-bangunan dan menimbun kendaraan. Banyak rumah dan infrastruktur lainnya terperosok ke dalam tanah yang terdampak likuifaksi ini.
Dampak Likuifaksi
Fenomena likuifaksi menyebabkan kerusakan lebih lanjut di beberapa daerah di Palu dan Donggala. Beberapa lokasi di sepanjang pesisir yang sebelumnya dihuni oleh ribuan penduduk, kini terendam lumpur dan tanah yang bergerak. Banyak rumah yang lenyap begitu saja, terkubur di dalam tanah yang cair. Selain itu, fenomena ini membuat upaya penyelamatan semakin sulit karena banyak korban yang tertimbun di bawah lapisan tanah yang sangat sulit untuk digali.
Pemulihan Pasca-Bencana di Palu dan Donggala
Bantuan dan Evakuasi
Setelah bencana, pemerintah Indonesia berkolaborasi dengan berbagai lembaga internasional, seperti Palang Merah Indonesia (PMI), untuk menyuplai bantuan kepada para korban bencana. Bantuan berupa makanan, air bersih, obat-obatan, dan tempat penampungan sementara segera disalurkan kepada para korban. Proses evakuasi berlangsung dengan sangat sulit karena kerusakan parah pada infrastruktur dan sistem komunikasi.
Upaya Rekonstruksi dan Pemulihan Jangka Panjang
Pemulihan jangka panjang di Palu dan Donggala masih berlangsung hingga saat ini. Pemerintah dan berbagai organisasi kemanusiaan berfokus pada pemulihan infrastruktur, pemulihan ekonomi, serta penyediaan tempat tinggal yang layak bagi para korban. Selain itu, penting juga untuk memperkuat sistem peringatan dini dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana alam yang serupa di masa depan.

www.bambubet.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *