Pada tanggal 29 Oktober 2020, dunia dikejutkan oleh serangan
teroris yang terjadi di Kota Nice, Prancis. Serangan tersebut berlangsung di Basilika Notre-Dame, sebuah gereja bersejarah yang terletak di pusat kota Nice dan merupakan salah satu tujuan wisata terkenal di Prancis. Kejadian ini menyebabkan tiga orang kehilangan nyawa dengan cara yang sangat tragis. Insiden itu segera memicu kecaman dari seluruh dunia dan mengingatkan kita pada bahaya ancaman terorisme yang masih ada.
Prancis, yang telah beberapa kali menjadi target serangan teror
dalam beberapa tahun terakhir, kembali menghadapi tragedi yang mendalam. Serangan ini bukan hanya menambah daftar panjang serangan teroris yang menghantui negara, tetapi juga menciptakan ketegangan sosial dan politik terkait isu ekstremisme, kebebasan beragama, dan keamanan publik.
Kronologi
Serangan dan Kejadian di Basilika Notre-Dame
Pelaku Serangan
Serangan terjadi pada pagi hari, sekitar pukul 9:00 waktu setempat, di Basilika Notre-Dame de l’Assomption. Pelaku yang diketahui bernama Brahim Aouissaoui, seorang pria berusia 21 tahun asal Tunisia, memasuki gereja tersebut dan segera melakukan aksinya. Ia menyerang tiga orang secara brutal, di mana dua di antaranya tewas di tempat, sedangkan satu orang lainnya meninggal setelah di bawa ke rumah sakit.
Aouissaoui diketahui masuk ke Prancis melalui Italia dan berada
di negara tersebut secara ilegal. Ia menggunakan senjata tajam untuk menyerang para korban, yang semuanya adalah warga sipil. Polisi berhasil menangkapnya setelah ia ditembak di kaki, dan kemudian dibawa ke rumah sakit. Selama pemeriksaan, pelaku mengaku bahwa ia melakukan serangan tersebut sebagai bagian dari ideologi ekstremisme dan kebencian terhadap Prancis.
Tanggapan Pemerintah dan Aparat Keamanan
Pemerintah Prancis segera menanggapi dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan serangan lebih lanjut. Perdana Menteri Jean Castex dan Presiden Emmanuel Macron mengutuk keras serangan tersebut, menegaskan bahwa Prancis tidak akan pernah menyerah pada ancaman terorisme. Macron juga mengumumkan bahwa pihaknya akan memperkuat pengamanan di tempat-tempat ibadah dan melindungi kebebasan beragama di negara itu.
Keamanan di seluruh kota Nice dan lokasi-lokasi sensitif lainnya
di Prancis diperketat. Polisi melakukan investigasi menyeluruh dan mulai mencari tahu apakah pelaku terhubung dengan kelompok teroris atau ada jaringan lain yang terlibat dalam serangan tersebut.
Reaksi Masyarakat dan Dunia Internasional
Serangan ini segera memicu protes di masyarakat Prancis, yang merasakan kesedihan dan ketakutan akibat insiden itu. Warga kota Nice, yang merasa sangat dekat dengan gereja tersebut, berkumpul untuk memberikan penghormatan kepada para korban dan menunjukkan solidaritas kepada mereka yang terkena dampak.
Kecaman terhadap serangan ini juga datang dari seluruh dunia.
Negara-negara internasional, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan banyak negara lainnya, mengutuk keras tindakan teroris ini. Banyak negara menyatakan bahwa mereka berdiri bersama Prancis dalam memerangi ekstremisme dan terorisme.
Implikasi Serangan Terhadap Keamanan dan Politik di Prancis
Ketegangan Sosial dan Radikalisasi
Serangan di Basilika Notre-Dame ini menunjukkan adanya masalah mendalam terkait dengan radikalisasi dan ekstremisme yang berkembang di kalangan sebagian individu di Prancis, khususnya di antara kelompok minoritas tertentu. Negara ini, yang merupakan rumah bagi populasi Muslim terbesar di Eropa, terus berjuang dengan tantangan integrasi sosial dan hubungan antar kelompok agama yang berbeda.
Serangan itu juga menarik perhatian terhadap kebijakan Prancis mengenai kebebasan beragama, hak asasi manusia, dan keadilan sosial. Ketegangan antara kebebasan berbicara dan penghormatan terhadap berbagai keyakinan agama menjadi masalah yang semakin peka setelah serangan ini.
Kebijakan Keamanan yang Lebih Ketat
Sebagai tanggapan terhadap peristiwa tersebut, pemerintah Prancis memperketat kebijakan keamanan di seluruh negara. Pasukan keamanan dan aparat kepolisian ditempatkan dalam status siaga yang lebih tinggi, terutama di lokasi-lokasi ibadah dan area-area penting lainnya. Selain itu, pemerintah juga menjanjikan untuk lebih memfokuskan diri pada upaya pencegahan radikalisasi dan melakukan pengawasan terhadap individu-individu yang berpotensi berisiko tinggi untuk terlibat dalam kegiatan terorisme.
Pada saat yang bersamaan, serangan ini meningkatkan ketegangan dalam hubungan Prancis dengan negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara, terutama berkaitan dengan kebijakan pemerintah Prancis yang keras terhadap ekstremisme Islam.